1. TANTANGAN BATASAN LINTAS BUDAYA

Dalam bisnis lintas budaya kita akan dihadapakan pada perbedaan dalam lingkungan budaya yang berbeda yang ditandai dengan perbedaan bahasa, sistem nilai yang unik, keyakinan serta sikap masyarakat yang berbeda. Faktor-faktor ini jelas mempengaruhi dimensi bisnis internasional. Resiko lintas budaya diartikan sebagai sebuah keadaan atau kejadian dimana miskomunikasi kebudayaan meletakkan nilai manusia pada suatu tingkatan tertentu. Sementara itu juga budaya merujuk pada pembelajaran, sikap berbagi, serta tatanan pola kehidupan kekal dalam lingkup suatu masayarakat.

Untuk menghindari kesalahan fatal yang diakibatkan oleh kesalahfahaman budaya atau salah pengertian yang dapat merugikan serta dapat menghancurkan bisnis lintas budaya maka pelaku bisnis diharapakan agar selalu meningkatkan pengertian dan penghargaan atas perbedaan-perbedaan pola budaya yang akan dihadapi serta meningkatkan sensitifitas atas segala perbedaan yang ada.

2. MAKNA BUDAYA: KONSEP DASAR

Pengertian luas dari budaya dikemukakan oleh Herskovits yakni: Manusia menjadi bagian dari lingkungannya. Kebudayaan melibatkan dua elemen yani objektif dan subjektif. Objektif atau aspek nyata dari budaya terdiri dari alat-alat buatan manusia seperti jalan, acara tv, arsitektur serta benda fisk lainnya. Subjekif atau aspek maya contohnya norma, nilai, ide, adat, serta simbol-simbol yang bermakna. Sementara menurut Geert Hoofstede seorang antropolgi organisasi Belanda, beliau memandang budaya sebagai “rencana mental yang tersusun”.

Budaya bukan tentang benar atau salah sebab budaya itu relatif, serta budaya juga bukan sikap atau tindakan individu sebab budaya menyangkut grup bukan perorangan.

3. KUNCI DIMENSI KEBUDAYAAN

Dimensi Kebudayaan meliputi nilai dan sikap, bersama kepercayaan atau norma-norma internal individu. Orientasi Kesuksesan-terhadap-Hubungan menguraikan intensitas bagaimana para manajer menjalankan bisnis, juga dianggap sebagai lawan dari sikap pengembangan hubungan. Sikap dan Kebiasaan merupakan cara dalam bertindak dan melibatkan diri di linkungan publik dan dalam situasi bisnis. Persepsi waktu mengacu pada fokus hidup sementara dalam melakukan pengaturan atas perencanaan, penjadwalan, arus keberuntungan, dan apa yang mendasari keterlambatan dalam bekerja dan melakukan pertemuan. Kebudayaan Monokromis [kaku] cenderung memperlihatkan suatu orientasi kaku atas waktu di mana setiap individu diorientasikan harus sesuai jadwal, ketetapan waktu, dan menganggap waktu sebagai sumber daya. Sebaliknya, Kebudayaan Polikromis mengacu pada fleksibiltas/kelenturan, orientasi waktu nonlinear di mana individu mengambil suatu perspektif jangka panjang serta mampu menjalankan tugas secara bersamaan (multitasking). Pemahaman atas ruang dapat menghadirkan ruang fisik atau wilayah di mana orang-orang dapat merasakan kenyamanan. Agama memberikan arti dan motivasi serta dapat menggambarkan nilai-nilai manusia serta jenis manusia-manusia yang ideal. Hasil simbolis material mengacu pada maksud baik yang terukur maupun tak terukur, pendirian, dan struktur kebudayaan individu yang membina diri mereka sendiri.

4. BAHASA SEBAGAI KUNCI DIMENSI KEBUDAYAAN

Bahasa adalah “cermin” dari Kebudayaan. Bahasa penting bagi komunikasi dan menyediakan pengertian yang mendalam atas budaya. Ada hampir 7.000 bahasa aktif, tetapi paling-paling hanya mempunyai beberapa ribu pengguna. Bahasa yang utama meliputi Bahasa Cina Mandarin, Hindi, Bahasa Inggris, Spanyol, dan Bahasa Arab. Bahasa mempunyai dua karakteristik yakni lisan/verbal dan nonverbal. Keduanya dipengaruhi oleh lingkungan. Kadang-Kadang sukar untuk menemukan kata-kata untuk menyampaikan maksud/arti yang sama di dalam dua bahasa berbeda. Dengan mempelajari atau menguasai satu atau lebih bahasa akan meningkatkan karier bisnis internasional seseorang.

5. KEBUDAYAAN DAN PERSOALAN KONTEMPORER

Ketika kebudayaan cukup stabil, maka masalah kontemporer dapat mempengaruhi Kebudayaan. Di dalam kontak hubungan – berdasarkan pelayanan jasa seperti pada perusahaan yang bergerak dalam firma hukum dan asritektur, penyedia jasa saling berhubungan secara langsung dengan bangsa asing di mana disadari atau tidak transaksi kebudayaan masuk ke dalamnya. Perbedaan kebudayaan dapat mendorong kearah persoalan dalam proses pertukaran jasa tersebut. Kemajuan teknologi merupakan suatu faktor kunci penentu kebudayaan dan perubahan budaya. Kemajuan sarana transportasi dan persebaran teknologi komunikasi yang kian canggih telah menghapuskan batasan-batasan wilyah administratif antar negara-negara. Teknologi juga mempromosikan Kebudayaan. Internet menekankan peran bahasa di dalam komunikasi. Globalisasi mempromosikan kebudayaan secara umum seperti halnya juga mempromosikan konsumsi dari produk dan jasa dari seluruh dunia.

6. PETUNJUK MANAJERIAL UNTUK KESUKSESAN LINTAS BUDAYA

Petunjuk manajerial meliputi kebutuhan untuk memperoleh pengetahuan berdasar fakta dan pandangan atas kebudayaan lain, dan mencoba untuk berbicara bahasa mereka. Para manajer perlu menghindari penyimpangan kebudayaan dan terlibat dalam analisa kritis penilaian kejadian secara sepihak. Analisa kritis melibatkan kesadaran kebudayaan, tidak menghakimi, dan memilih penafsiran atas perilaku asing. Para manajer yang berpengalaman mengembangkan ketrampilan silang budaya yang di dalamnya mencakup suatu toleransi atas ketidaksepahaman, cara pandang, nilai hubungan pribadi, dapat menyesuaikan diri serta fleksibel. Kecerdasan berbudaya adalah kemampuan untuk bersikap efektif di dalam situasi yang berbeda